Ketika Hidup Harus Memilih

0
24

Sahabat, Betapa sering kita dihadapkan kepada pilihan hidup yang menentukan masa depan. Dan butuh kejernihan hati untuk menentukan pilihan, tidak hanya pertimbangan kepentingan sesaat dan keinginan hawa nafsu yang yang menipu. Namun iman dan kebersihan hati serta petunjuk Ilahi yang seharusnya jadi dasar untuk menentukan pilihan. Agar masa depan yang panjang terselamatkan, bukan hanya sejenak masa di hadapan. Pilihan hidup silih berganti hadir dihadapan mata, menuntut kejelian dan kebijakan dalam menyikapinya, agar kebahagian sejati bisa diraihnya. Bisa jadi itu adalah hal sederhana, atau merupakan sesuatu yang besar ibarat “ buah simalakama “, suatu pilahan yang rumit dengan resiko besar. Ada yang harus dikorbankan namun kita tetap harus memilih, maka pandai-pandailah menentukan pilihan.

Sahabat ,Coba simak kisah berikut ini. Sebuah kisah nyata tentang pilihan bijaksana, yang patut kita jadikan contoh teladan sepanjang jaman. Pilihan yang didasarkan pada keimanan bukan pada keinginan.

Dari ‘Atha’ bin Abu Rabah, katanya: “Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan padaku: “Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?”
Saya berkata: “Baiklah.”

Ia berkata lagi: “Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi shalallahu’alihi wa salam lalu berkata: “Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu lalu saya membuka aurat tubuhku. Oleh kerananya haraplah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah – agar saya sembuh.”

Beliau shalallahu’alaihi wa salam bersabda: “Jikalau engkau suka hendaklah bersabar saja dan untukmu adalah syurga, tetapi jikalau engkau suka maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta’ala agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya.”

Wanita itu lalu berkata: “Saya bersabar,”
Lalu katanya pula: “Sesungguhnya kerana penyakit itu, saya membuka aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah Tuan mendoakan saja untuk saya kepada Allah agar saya tidak sampai membuka aurat tubuh itu.”
Nabi shalallahu’alaihi wa salam lalu mendoakan untuknya – sebagaimana yang dikehendakinya itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Sahabat, betapa sering kita mengeluh karena derita yang tidak seberapa, begitu tergesa dan lupa kesabaran berujung pada kebahagiaan di jannah. Bagaimana kalau yang mengalami kondisi seperti dalam cerita ini adalah engkau? mana yang akan kau pilih? antara jannah yang di janjikan atau kesembuhan dari penyakit ayan ( epilepsi) ? memang benar wanita tersebut bukan dari kalangan shahabiyah terkenal, bahkan ia menderita epilepsi, namun ia sudah mendapat janji dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam dengan jannah. Kesembuhan yang ia harapkan rela ditukar dengan jannah yang dijanjikan dan permintaannyapun menjadi sangat sederhana, yaitu ia berharap agar aurat tidak tersingkap saat penyakit kambuh menyerangnya. Sungguh luar biasa, bahkan disaat kesadaran tidak dikuasainya, dan pena diangkat darinya, wanita ini masih tetap berharap bisa menjaga auratnya. Dan sungguh ironi, dimana banyak wanita saat ini yang dengan segenap kesadarannya tidak merasa berdosa membuka auratnya. Bahkan Ia bangga tampil di depan manusia dengan tidak menutup aurat secara sempurna . Padahal yang ia lakukan hanya demi kepentingan dan kesenangan sesaat.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua agar bisa lebih bijak menentukan pilihan hidup, baik itu urusan kecil apalagi urusan besar.
Aamiin.

Syamsuddin

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Masukkan Nama