EMAIL

redaksi@fkam.or.id

Call/SMS Center

085647588822

Ketika Iman Bertemu Batu Ujian

  • Home
  • Ketika Iman Bertemu Batu Ujian
30 Oct
0

Ketika Iman Bertemu Batu Ujian

Sahabat…
Coba simak penggalan kisah kehidupan, seorang hamba yang di hadapkan dua pilihan rumit untuk menguji kebenaran keimanannya, dan menjadi cahaya penerang untuk generasi berikutnya ketika harus dihadapkan dengan problem dan masalah serupa. Kisah seorang anak calon raja, bahkan mahkota ayahnya sudah dibuat dan siap dikenakannya, pakaian kebesaran sudah disiapkan, seakan kekuasaan sudah dalam genggaman, dan jadilah ia seorang pangeran, namun apa hendak dikata, dunia ini penuh dengan rahasia. Berbagai kejutan seringkali mengagetkan kita.

Dan tidak terduga, cahaya Islam menyinari negerinya, segenap rakyat menyambut dengan sepenuh suka cita, bahkan tak ketinggalan tokoh-tokoh masyarakat menerima dengan sepenuh jiwa. Hingga seakan kena kudeta, walau tanpa ada ancaman dan paksaan, pengaruh sang ayah mulai berkurang, karena banyak yang beralih merapat kepada manusia pilihan. Hingga akhirnya kekuasaan yang sudah di pelupuk mata lenyap seketika. Mahkota retak jatuh berserakan, dan raja tinggal kenangan dan impian… Hingga sang ayah mengusung barisan sakit hati. Namun hidayah adalah kuasa Allah, anak yang sangat berbakti kepada sang ayah menerima cahaya hidayah dengan sepenuh kesungguhan. Ia menjadi seorang mukmin militan, dan memilih jalan yang ditempuh Rasulullah dan meninggalkan jalan ayahnya…

Sahabat…
Namun Allah tidak membiarkan iman seorang hamba kecuali akan diuji agar nyata siapa yang benar pengakuannya dan siapa yang dusta sekedar ngaku-ngaku saja. Dan bukan suatu yang sederhana, namun sangat berat untuk ukuran kebanyakan manusia. Cobalah buka lembar sejarahnya, dan engkau akan terpesona dengan sikap dan keteguhan imannya.

Dikala orang tuanya bikin ulah untuk membuat goyah eksistensi Islam, dan terdengar kabar bahwa ayahnya akan dieksekusi, maka sebagai anak yang berbakti, ia segera datang menghadap Rasulullah untuk mengajukan sebuah permohonan… Apakah gerangan yang di minta….????? apakah sebuah pembelaan untuk ayahnya??? Atau sebuah permintaan ampunan untuk bapaknya??? Atau ada apa gerangan yang disampaikannya… yaa dia adalah seorang anak yang terkenal amat sangat berbakti kepada orang tua, dan memang itu yang diperintahkan Allah dalam Al Qur’an, sebuah perkara yang kedudukannya dibawah urusan Tauhid & Syirik.

Namun ternyata yang diminta tidak seperti yang kita bayangkan… Ia meminta kepada Rasulullah agar jangan mengirim utusan untuk mengeksekusi ayahnya kecuali dia sendiri yang diutus untuk membunuh bapaknya… sebuah permintaan diluar kebanyakan nalar manusia, namun itulah cerminan iman yang telah terpatri dalam hati… Allah dan Rasulullah yang lebih dicintai bahkan dibandingkan bapaknya sendiri, ia memilih untuk menawarkan diri sebagai jagal untuk mengeksekusi ayahnya, karena ia khawatir tidak bisa bersabar jika yang diutus untuk itu orang lain. Ia tak ingin mendendam terhadap saudara seimannya. Ia khawatir nanti akan menuntut balas jika yang mengeksekusi orang lain… namun Rasulullah lebih memilih mendiamkan dan meredam permasalahan.

Sahabat…
Apakah cukup sampai di situ saja bukti keimanan yang digambarkannya…? bukan… masih ada sisa penggalan kisahnya yang luar biasa… sepulang dari sebuah peperangan, ia segera menghela kudanya, melaju berpacu melawan asa, sisakan kepulan debu mengangkasa menuju batas kota dan mengamati setiap manusia yang berjalan masuk menuju kota. Hingga sang Ayah hendak lewat di depan mata, dan dengan sigap di tahan dan dihadangnya, pedang dihunus diacungkan kemuka, dan melarang ayahnya masuk ke kota, karena ayahnya pernah berkata bahwa orang yang mulia akan mengusir orang yang hina. Dan dia sadar bahwa Rasulullah adalah orang yang mulia sedang ayahnya adalah orang yang hina, maka ia tidak rela ayahnya masuk kota kecuali harus mencegah dan mengusirnya… yaa itu adalah ayahnya sendiri, seorang ayah yang selama ini ia selalu beruat baik dan berbakti, tapi ketika pilihan dihadapkan, antara orang tua dan iman, maka ia memilih keimanan. Ketika sang Ayah hendap memaksa masuk kota, maka dengan kesungguhan ia menyerang dengan pedangnya. Dan ia sampaikan bahwa sang Ayah tidak boleh masuk kota kecuali atas seijin Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam. Hingga tibalah Rasulullah di tempat kejadian, dan kembali Beliau meredam keadaan…

Sahabat…
Itulah sikap keimanan hamba pilihan. Dialah Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul radhiyallahu ‘anhu, Seorang hamba yang dipilih Allah untuk menjadi bagian dari kelompok yang mendampingi Rasulullah mengemban Risalah Nubuwah. Mengawal dan mengusung perjuangan. Dan hanya jiwa tangguh saja yang mampu mengusung misi perjuangan, yang bisa lulus ujian keimanan, bahkan ketika harus dihadapkan pilihan rumit dan berat antara keimanan dan bakti kepada orang tua… Namun lihatlah contoh keteladanannya, lalu bagaimana dengan Anda…??? Mana dan apa yang akan engkau utamakan antara keimanan atau keluarga yang mengutamakan kekafiran…??? antara Allah dan Rasul-Nya atau kelompok yang berkhianat kepada Rabb semesta…???

Semoga Allah senantiasa meneguhkan keimanan kita hingga saat kita berjumpa dengan-Nya … Aamiin.

Barakallahu fiikum
📖🌻🌺🌼📚🌼🌺🌻📖

Ust. Syamsuddin

0 Comments

Leave a Comment