Khutbah Jum’at : Menjadikan Musim Hujan Sebagai Penyubur Iman

0
33

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.

وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

[ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [ آل عمران: 102 }

 {يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا }

[النساء: 1] .

[ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71 }.

أما بعد:

Jama’ah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala in syaa Allah…

Pertama-tama marilah kita senantiasa menghaturkan rasa syukur kehadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang atas segenap limpahan rahmat dan karunia-Nya. Nikmat yang sangat banyak yang tidak mungkin untuk kita hitung satu persatu, dan nikmat yang sangat besar sehingga tiada takaran dan ukuran di dunia ini yang mampu untuk mengukurnya dengan tepat. Itulah anugerah kenikmatan dari Allah, hanya saja banyak dari manusia yang tidak menyadari nikmat anugerah Ilahi kecuali setelah nikmat itu dicabut atau dikurangi. Panas adalah nikmat Allah, sehingga dengan panas terik matahari manusia bisa mengeringkan pakaian, bisa mengeringkan hasil panen, dan lain sebagainya. Namun yang harus diingat bahwa mendung dan hujan juga merupakan nikmat yang diturunkan Allah, sehinga tanaman bisa tumbuh, hewan-hewan bisa minum, dan kita manusia bisa masak, mencuci, mandi dan memenuhi kebutuhan akan air. Semua itu diatur oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Tugas kita adalah memuji Allah dan bersyukur atas segenap nikmat tersebut, selanjutnya mempergunakan untuk ketaatan.

وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (Q.S. An Nahl : 65)

Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah…

Marilah sejenak kita perhatikan bagaimana keadaan sekitar kita, yang beberapa waktu lalu terasa kering, panas, gersang, tandus seakan tiada tanda-tanda kehidupan, namun ketika tiba masa Allah turunkan hujan, keadaan berubah, suasana menjadi lebih sejuk, tanah mulai menghijau, rerumputan dan tetumbuhan mulai tumbuh menghias pandangan. Sejuk dan menentramkan. Bumi yang sebelumnya tampak mati kemudian kembali hidup. Dan disitulah terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi umat manusia yang mau mengambil pelajaran. Selanjutnya tugas kita adalah bersyukur atas karunia Allah tersebut dengan sebenar-benar kesyukuran.

Hujan adalah rahmat dari Allah. Di dalamnya terdapat banyak kebaikan, maka janganlah kemudian kita menjadi manusia lancang yang mencela hujan dengan lisan kita. Ingatlah harapan dan kerinduan kita beberapa waktu yang lalu, ketika terik matahari menyengat, mata air banyak yang mengering, tanaman mati, semua berharap hujan segera turun, semua kangen dan merindukan awan dan mendung, bahkan tak jarang yang sampai melaksanakan shalat istisqa’ untuk memohon hujan kepada Allah. Namun ketika Allah telah turunkan hujan kepada kita, dan manusia merasa gembira dengannya, sejanak kemudian manusia bosan karena saking banyaknya karunia Allah. Bahkan mulailah muncul berbagai ungkapan dan perkataan yang tidak selayaknya diucapkan seorang hamba kepada Rabbnya. Ada yang berkata,
“Jam segini kog sudah hujan…” atau
“pagi-pagi kog sudah hujan…”
“waduh… Hujan lagi…”
“kapan panasnya, sudah sekian hari jemuran belum kering…”

Dan beragam ungkapan yang serasa tidak terima dengan anugerah Allah yang berupa hujan. Dan apapun reaksi kita, hujan tetap merupakan nikmat anuegerah dari Allah yang harus disyukuri, bukan dicaci. Jangan sampai kita berkata yang tidak sepatutnya terhadap karunia Allah hanya karena hal itu tidak sesuai keinginan kita. Namun syukuri saja dengan sepenuh penerimaan, semoga Allah berikan keberkahan.

وَهُوَ ٱلَّذِى يُرْسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ ٱلْمَآءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ ٱلْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Q.S.Al A’raf : 57)

Janganlah mencela hujan, kapanpun waktunya turun, entah malam, siang, sore ataupun pagi hari saat kita hendak berangkat kerja. Karena yang menurunkan hujan di waktu pagi dan di waktu malam adalah sama, yaitu Allah. Dan Allah menurunkan hujan dengan ilmu-Nya yang Maha Luas dan meliputi segala sesuatu.

Janganlah mencela ketetapan dan karunia Allah, baik itu terkait hujan, angin, waktu, atau hal lain terkait ketetapan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi berikut,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.”

(HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ

”Janganlah kamu mencaci maki angin.”

(HR. Tirmidzi no. 2252, dari Abu Ka’ab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Mencela waktu disamakan dengan mencela yang mengatur waktu, mencela hujan seakan mencela Allah, karena Allah yang menurunkan hujan. Maka sikap terbaik adalah selalu bersyukur kepada Allah serta berdoa ketika hujan turun,

اللّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا
Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat.

Semoga musim hujan tahun ini menjadi penyubur keimanan kita kepada Allah, dan penambah semangat dalam beribadah… Aamiin…

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah…
Mari sejenak kita hadirkan hati dengan sepenuh ketundukkan dan khusyukan untuk berdoa, memohon kepada Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اَللَّهُمَّ اكْفِنا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Pencarian :

  • khutbah jumat tentang mensyukuri seringnya hujan

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Masukkan Nama