Memperlakukan Manusia Sesuai Kadar Pemahamannya

0
22

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

“بَالَ أَعْرَابِيٌّ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَامَ النَّاسُ إِلَيْهِ لِيَقَعُوا فِيْهِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلى اللّه عليه وسلم : دَعُوْهُ وَأَرِيْقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ،فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِيْنَ.”

(رواه البخاري)

“Ada seorang Badui kencing di dalam masjid, kemudian orang-orang bangkit untuk memukulnya, tetapi Nabi shalallahu ‘alahi wasalam melarangnya dan bersabda, “Biarkan dia, siramkan saja pada kencing itu seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit.”(H.R. Bukhari)

Shahabat…
Itulah indahnya Islam yang divisualisasikan oleh Rasulullah. Beliau memperlakukan manusia sesuai kadar pemahaman mereka. Tidak mesti yang salah harus langsung dihukum dan dimarahi ataupun dicaci maki. Namun dengan memahami latar belakang dan kondisi orang yang berbuat kesalahan akan membuat kita lebih bijak menentukan sikap.

Yaa siapa yang tidak marah ketika tiba-tiba ada orang buang air kecil di dalam masjid? Apalagi yang melakukan adalah orang dewasa, tentu akan membuat hati “gemas” untuk segera menegur dengan nada tinggi alias marah. Begitu pula sikap beberapa shahabat yang melihat kejadian itu, mereka bangkit untuk memarahi si Badui. Namun… Nabi mencegah shahabatnya, dan justru memerintahkan shahabatnya untuk mengambil seember air untuk menyiram air kencing si Badui tadi. ( catatat : Masjid waktu itu lantainya masih pasir atau tanah, jadi air bisa meresap ke tanah) Masalah selesai tanpa keributan.

Bekas kencing juga hanya di satu area kecil saja tidak menyebar kemana-mana. Dan Si Badui akhirnya juga tahu bahwa tidak boleh kencing di dalam masjid. Sedang para shahabat juga tidak perlu marah kepada orang yang memang belum faham. Bahkan Rasulullah ingatkan para shahabat agar menjadi orang yang suka memberi kemudahan kepada orang lain. Beliau juga mengingatkan agar jangan suka mempersulit orang lain. Maka perlakukanlah orang lain sesuai dengan kadar kefahamannya. Tidak adil jika orang tidak faham dihukumi sebagaimana orang yang faham. Jika yang berbuat salah adalah orang yang berilmu tentu cara bersikap akan berbeda dengan sikap terhadap orang yang belum berilmu.

Demikian juga dalam dakwah, kadang mengetahui ada seseorang yang sudah mau shalat sudah membuat kita bahagia, karena ia sebelumnya belum shalat dan memang belum faham Islam., namun di sisi lain, kita akan marah ketika ada santri baru bangun pas adzan subuh misalnya… Maka bijaklah dalam mengambil sikap terhadap manusia, perlakukan sebagaimana tingkat kefahaman mereka. Permudahlah jangan dipersulit.

Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita dan memperbaiki akhlaq kita… aamiin

Barakallahu fiikum
🌅🌹🌼🌺💖🌺🌼🌹🌄

Ust. Syamsuddin

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Masukkan Nama