PDM (Praktek Dakwah Masyarakat) Da’i FKAM(Forum Komunikasi Aktivis Masjid) di Desa Sukosari, Trenggalek

0
1148

Rabu, 16 Mei 2018 (Sekolah Al-Azhar, Desa Sukosari, Kec. Gundasari, Trenggalek.)

(hari pertama penugasan)

Seperti biasa, kami bangun dan melakukan Shalat Shubuh, untuk waktu adzan Sholat Shubuh disini sekitar jam 4 pagi lebih beberapa menit.

Kami berdua bergantian menjadi Muadzin dan Imam. Kalau saya Muadzin(Ahmad Reza), maka Ustad Darman sebagai Imamnya, dan sebaliknya. Untuk adzan kami disarankan untuk tetap memakai lafal  الصلاة خير من النوم oleh Ustad Abu.

Sayangnya karena kami ditempatkan di Masjid sekolah, maka jama’ahnya hanya berkisar 3-4 saja. Ditambah banyaknya masyarakat yang membangun masjid atau musholla, dikatakan bahwa jumlah Musholla dalam 1 RT bisa berjumlah 10-11 Mushalla. Mungkin inilah diantara sebab sedikitnya jama’ah yang ikut Shalat 5 waktu.

Pada siang harinya (setelah Sholat Dhuhur) kami diantar keliling kota, kemudian kami dibawa menuju pantai Pasir Putih, Prigi. Salah satu ikon wisata di Trenggalek. Sore harinya kami diminta untuk ikut membantu TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) Al-Azhar.

TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) Al-Azhar yang terletak di Desa Sukosari, Kec, Gandusari, Trenggalek kedatangan 2 Ustad baru dari FKAM. Ustad Darman sedang memperkenalkan diri kepada anak-anak TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) Al-Azhar. Dengan jumlah murid yang mencapai sekitar 130-an, para pengajar yang berjumlah sekitar 5 orang(1 Ustad, 4 Ustadzah) merasa terbantu dengan adanya Da’i dari FKAM (Forom Komunikasi Aktivis Masjid).

Ustad Abu pengasuh TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) sekaligus tokoh agama masyarakat sekitar berharap setidaknya ada da’i yang siap untuk tinggal disini lebih lama atau mungkin ikut menjadi warga disini, sedangkan untuk kader putra daerah masih minim remaja yang ingin mempelajari agama.

Kegiatan TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) dilaksanakan ba’da Ashar.

Malam harinya, kami diajak bersilaturrahim dengan DKM (Dewan Keluarga Masjid) Masjid Baitur Rohman oleh Ustad Abu. Secara ringkasnya sejarah masjid ini dulunya adalah milik NU (Nahdlatul Ulama), dengan berjalannya waktu, masjid ini mati karena tidak ada jamaah yang datang. Setelah itu masjid itu dibeli oleh salah seorang jama’ah Ustad Abu. Dan oleh beliau berdua mulai menghidupkan masjid tersebut dengan berjalannya waktu. Ustad Abu, memperkenalkan kami kepada DKM (Dewan Keluarga Masjid) masjid, lalu Pak Mukhsin(Takmir Masjid Baiturrohman).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Untuk Sholat Tarawih, jangan membaca surat-surat yang panjang, Masyarakat suka bacaan pendek.
  2. Untuk bacaan Basmallah, tidak dikeraskan.
  3. Kultum, jangan terlalu lama lalu materi jangan terlalu tinggi, serta jangan terlalu dalam dalam membahas sebuah permasalahan. Cukup fiqh Ibadah praktis dan doa-doa.
  4. Kalau bisa, kultum disampaikan dalam bahasa Jawa, walaupun jama’ah faham dengan bahasa Indonesia, akan tetapi dengan Bahasa Jawa mereka lebih faham. Dan memakai Krama Inggil.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Masukkan Nama