PDM (Praktek Dakwah Masyarakat) Da’i Ramadhan di Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat

0
346

Senin 21 Mei 2018

Bertepatan pada Ramadhan ke 5, kami berdakwah di Mandor, Kabupaten Landak, pedalaman Kalimantan Barat. Kami singgah di rumah warga yang kebetulan mereka muallaf. Ketika sampai,  ternyata ada kawan dari tuan rumah yang bertamu. Seorang Khatolik Dayak.

Awalnya kami agak sedikit gentar. Bagaimana tidak?  Sekujur tubuhnya dipenuhi tato, semacam preman.  Tapi setelah ngobrol, ternyata dia punya sesuatu hal yang sangat menarik untuk disimak.

Dia bilang, bahwa dia dulu kala bujang pernah lama tinggal sama orang Islam.  Bahkan sempat ingin tertarik untuk jadi muallaf. Tapi dia punya prinsip, klo tidak siap jangan masuk dulu karena nanti takut mempermainkan agama. Agama bukan untuk dipermainkan katanya.

Setelah itu dia juga bilang, kalau sebenarnya Islam itu lebih masuk akal dibandingkan Katholik, agama yang dianutnya. Kenapa?

“Kalau dalam Katholik sembahyang perempuannya banyak yang memakai perhiasan emas, juga memakai pakaian yang minim seperti rok mini.  Bagaimana kita bisa beribadah khusyuk klo liat yang begituan,  paha gratis, enak kan?” tutur dia.

“Beda dengan orang Islam, mereka lebih tertata pakaiannya saat sembahyang.  Tertutup dan sopan..” tambahnya.

Lalu dia melanjutkan, “Kalau di Katholik itu tuhan digambarkan. Masak Tuhan digambarkan? Terus diperjual belikan lagi posternya.”

“Logikanya mana mungkin 2000 tahun lalu sampai sekarang masih sama antara gambar dan wajah aslinya, dulukan tak ada foto..” pungkasnya.

Lalu dia bercerita bahwa setiap sembah yang dia tak pernah mau melihat patung bunda Maria.  Dia hanya fokus ke atas. Alasannya patung bunda Maria itu buatan manusia, mending batu yang jelas buatan Tuhan.

“Sebenarnya Islam lebih masuk akal mas,  bahkan di Katholik saja kitabnya dirubah-rubah,  bener kata orang Islam tentang kita. Kalau Islam kan gak dirubah-rubah gitu.  Saya ini mungkin rohnya Islam,  tapi tubuhnya belum.”  Ujarnya..

 

Masih banyak lagi cerita dia tentang Islam. Kami mengambil kesimpulan dari cerita diatas ternyata hidayah itu mahal harganya. Semoga Allah anugerahkan hidayah kepada saudara kita ini. Jangan lupakan kami dalam doamu, semoga dakwah Islam semakin tersebar di Nusantara. Aamiin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Masukkan Nama