Rohingya, Bangsa Muslim yang Terlantar

0
64

Sebenarnya, menurut catatan beberapa pemerhati konflik Rohingya, tragedi pembersihan etnish oleh kaum Budha tidak sekedar terjadi pada umat Islam Rohingya. Etnis lain yang tinggal di Burma, juga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari pemerintahan Budha Myanmar. Misalnya etnis Chin, Kachin, ataupun Karen. Diantara anggota suku ini, terdapat yang beragama Islam.

Hanya saja, Pemerintahan Budha ini, jauh lebih diskriminatif dan bar-bar terhadap etnis muslim Rohingya. Penderitaan yang sama, juga pernah dirasakan oleh muslim Rohingya pada masa perebutan kekuasaan antara Inggris dan Jepang di Negara Myanmar, kisaran tahun 1940 an.

Seorang pemerhati dari Malaysia, Prof. Datuk Abdul Halim Shidiek, mencatat, “Tentara Jepang terlibat dalam penindasan beribu-ribu umat Islam Rohingya. Begitu beratnya penidasan, pada era ini ada sekitar 22.000 umat Islam pindah ke Bangali, dan sebagiannya ke India. Ada 40.000 orang melarikan diri ke Chittagong. Semuanya demi menyelamatkan diri dari kekejaman Jepang dan penguasa Burma.”

Hal yang sama diungkap oleh salah satu pendiri PIARA, Heru Setyio, “Sebenarnya yang mendapatkan perlakuan diskriminatif dari pemerintah Myanmar itu, tidak hanya muslim Rohingya. Etnis-etnis lain pun mendapatkan perlakuan tidak simpatik dari pemerintahan Myanmar. Hanya, memang, etnis Rohingya lebih ditargetkan dalam pembersihan etnis oleh pemerintahan Myanmar. Mereka mereka mendapatkan tindakan diskriminatif lebih kejam dari penguasa dari pada saudara-saudaranya dari etnis lain.” Jelas Heru Setiyo dalam wawancara via telepon dengan majalah An-Najah.

Manusia Perahu Yang Terusir

Terusir dari negerinya dan menjadi manusia perahu (boat people), warga Rohingya tertatih-tatih menanti negeri yang mau menampung mereka.  Sekitar 1200 warga Rohingya meninggalkan Myanmar pada bulan Desember 2008 menuju Thailand.  Datang dengan cara yang tidak umum, otoritas Thailand segera menampik mereka.  Sebagian mereka masih ditahan di Thailand dan sebagian kembali terusir ke laut.

Menggunakan sembilan perahu mereka kemudian terdampar di Laut Andaman, sebagian kecil diselamatkan oleh warga Indonesia dan kini ditampung sementara di Aceh. Sebagian kecil yang lain diselamatkan oleh Angkatan Laut India.  Selebihnya masih terkatung-katung.  Daily Yomiuri (11/2-09) menyebutkan bahwa pada nelayan Aceh menyelamatkan 220 ‘manusia perahu’ Rohingya pada 2 Februari 2009, namun 22 diantaranya telah tewas karena kehausan dan kelaparan.

Penelantaran oleh negara asal Myanmar dan pengusiran oleh negara tujuan Thailand tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah memang stateless persons dan para pencari suaka (asylum seekers) tak memiliki hak untuk diperlakukan secara wajar dan mendapatkan perlindungan yang layak secara kemanusiaan?

“Kami terpaksa melarikan diri dari Rakhine ke tempat lain, tidak ada makanan di sana, kami tidak bisa mendapatkan makanan maupun ke luar rumah, ” kata pengungsi Rohingya, Salim Noorulhaq seperti dikutip PressTV, Jumat (4/1).

Tak ada satupun warga di dunia ini yang ingin jadi pencari suaka ataupun pengungsi. Sama halnya dengan warga Rohingya.  Sayangnya,  negeri tempat mereka hidup tak lagi ramah untuk mereka.  Bukan hanya saat ini, sudah berpuluh tahun etnis minoritas Rohingya hidup dalam kedukaan di Myanmar.

Tak ada data pasti tentang persentase muslim di Myanmar.  Dan Rohingya bukan satu-satunya etnis muslim di Myanmar.  Disamping etnis Rohingya, ada pula etnis Indian Muslim yang kebanyakan tinggal di Rangoon (berubah menjadi Yangoon pada tahun 1989), kemudian etnis Panthay, etnis muslim keturunan China yang bermigrasi dari China Barat Laut (muslim Hui), etnis muslim keturunan Melayu yang tinggal di Kawthaung dan sebagian kecil bermukim di pulau-pulau sekitar laut Andaman dan kerap disebut sebagai Moken (atau Sea Gypsy/Orang Laut).

Etnis Rohingya mendiami sisi utara negara bagian Rakhine (sebelumnya bernama Arakan) di Myanmar bagian barat.  Konsentrasi mereka ada di lima kota di sisi utara Rakhine masing-masing adalah di Maungdaw, Buthidaung, Rathedaung, Akyab, Sandway, Tongo, Shokepro, Rashong Island dan Kyauktaw.  Dari sisi geografis,demografis, dan bahasa,  mereka memiliki kedekatan dengan Bangladesh (Bengal) yang memang dikenal sebagai negeri muslim.

Status etnis Rohingya di Myanmar saat ini adalah stateless persons alias orang tanpa kewargenegaraan. Mereka tak pernah diakui pemerintah Myanmar sebagai salah satu dari 137 etnis yang diakui di Myanmar.  Status ini tentunya membawa masalah.  Karena memang dalam sejarah keberadaannya di Myanmar, bahkan jauh sebelum Myanmar merdeka dari Inggris pada tahun 1948, mereka kerap menjadi obyek penyiksaan dan kebencian, yang menyebabkan kehidupan dan mencari lapangan pekerjaan menjadi amat sulit.   Maka,  amat beralasan bagi mereka untuk kemudian mencari suaka ke negeri lain.*

(Annajah.net)

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Masukkan Nama